Wahai Muslimah... Malumu mahligai yang tidak perlukan singgasana tetapi ia berkuasa menjaga diri dan nama... Malu adalah mahkota Yusuf yang membuatnya agung dihadapan tipu daya Imraatul' Aziiz Zulaikha... Malu adalah adalah perisai Abu Bakar Al Miski yang memakai Baju Besi lumuran kotoran manusia ketika seorang wanita cantik dan kaya mengajaknya berzina.!! Malu adalah pakaian Rasulullah sampai beliau lebih terjaga oleh rasa itu daripada gadis pingitan... Belajarlah menjadi pemalu dalam masalah kesucian diri.
Showing posts with label KISAH. Show all posts
Showing posts with label KISAH. Show all posts

Thursday, November 24, 2011

Ingat Nak, Bila Kamu Tidak Sholat. Diakhirat Ibu Akan Disiksa



Air matanya mengalir teringat pesan ibunda tercinta, "Ingat Nak, Bila Kamu Tidak Sholat. Diakhirat Ibu Akan Disiksa." Disaat kenyataan pahit menghempas hidupnya. Usahanya dibidang pertanian dan makanan. Gagal panen karena faktor alam membuatnya harus mengalami kerugian milyaran rupiah. Disaat itu dirinya benar-benar minus, bila dihitung antara aset dan hutang, lebih banyak hutangnya. Sejak peristiwa itu seakan membuatnya terasa tertohok, menerima sebuah pukulan yang cukup telak membuat tubuhnya terhuyung-huyung limbung dan sampai akhirnya jatuh sakit. Perusahaan yang hampir kolaps dan sakit yang dideritanya telah menyadarkan dirinya, sehebat apapun manusia berencana pada akhirnya Allahlah yang menentukan. Dalam hatinya menjerit. 'Ya Allah, apa yang salah dariku? Perusahaanku hampir hancur, malah Engkau berikan aku sakit?' Air matanya mengalir. Ditengah istri dan anak-anaknya tertidur lelap. Tak kuasa menahan perih dihatinya. Terasa begitu sakit yang luar biasa dideritanya. 

Dalam kesendirian dirinya merenung, selama ini betapa dirinya telah jauh dari Allah. Keyakinan terhadap diri sendiri telah membuatnya mengabaikan peran Allah dalam keberhasilan usahanya. Ibadah seperti sholat, zakat, puasa dan shodaqoh tidak pernah dilakukannya. Teringat pesan ibunda tercinta sewaktu masih duduk dibangku SMP agar jangan pernah meninggalkan sholat. 'Ingat nak, diakhirat kelak Ibu akan disiksa, bila kamu tidak pernah sholat, karena kamu tidak pernah berdoa untuk Ibu.' Baju basah tergenang air mata kerinduan kepada ibunda. Telah sekian tahun berlalu, sholat tidak pernah dikerjakan, tenggelam dalam mengejar impian. tergambar jelas begitu menggebu-gebu dirinya, siang malam bekerja merintis usahanya. Istri dan anak-anaknya bahkan telah kehilangan figur dirinya sebagai suami dan ayah yang baik. 'Ampunilah hambaMu ini, Ya Allah..' Ucapnya lirih tak terdengar. Cubitan Allah itu telah menyadarkannya segera bangkit. Kehadirannya di Rumah Amalia untuk berbagi dengan harapan mendapatkan keridhaan Allah bagi diriya dan keluarga. Beberapa hari kemudian sakitnya sembuh. Seolah mendapatkan kekuatan besar untuk mengurus kembali usaha yang telah dirintis selamanya ini. Geliat perkembangan perusahaan pertanian dan makanan, tumbuh pesat tidak pernah disangkanya. Ia yakin semua itu adalah kehendak Allah dan hal itu membuat dirinya, istri dan anak-anaknya tidak lupa diri malah semakin dekat dengan Allah untuk menggapai keridhaanNya. Ibadah sholat ditunaikan mendatangkan kebahagiaan dan ketenteraman bagi kehidupan rumah tangganya. Subhanallah.

Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ
“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” 

Bilamana shalat seseorang itu baik maka baik pula amalnya, dan bilamana shalat seseorang itu buruk maka buruk pula amalnya.” (HR. Ath-Thabarani)

By: M. Agus Syafii

" SEMANGKUK NASI PUTIH"



Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut.

"Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih."

Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.

Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan :

"dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya."

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum :

"Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !"

Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir : "kuah sayur gratis."

Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.

"Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya." Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.

"Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !"

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.

Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini,

hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi?

Suaminya kemudian membisik kepadanya :

"Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah."

"Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya."

"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?"

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.

"Terima kasih, saya sudah selesai makan." Pemuda ini pamit kepada mereka.

Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.

"Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !"

katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.

Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur,tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.

Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.

"Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan."

"Siapakah direktur diperusahaan kamu ?, mengapa begitu baik terhadap kami? saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !" sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.

"Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya."

Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses untuk kerajaan bisnisnya.

Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya.

Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka :"bersemangat ya ! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !"

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan.

Cerita yang tidak membuat saya bosan untuk mengulang membacanya, ketika keIKHLASan berbuah kebaikan tak terduga. Walaupun kita tak pernah berharap akan ada balasannya. 
Subhanallah, Maha Lembutnya Allah yang meniupkan sifat kelembutan-Nya kedalam hati Hamba-hamba-Nya. 
Semoga Allah juga senantiasa melembutkan hati kita untuk terus memperbaiki diri & berbuat kebaikan. Amin Ya Allah  ^_^

CERITA INI BERDASARKAN PADA SEBUAH KISAH NYATA

Saturday, September 10, 2011

SANG MU'ALLAF



Hidayah.. Bisa Datang dengan Sendirinya, Namun, Ada Kalanya Juga Harus Kita Jemput..
Setiap orang bisa menjadi Sang Murobbi (pendidik) untuk dirinya sendiri dan orang lain..

Sebuah pertanyaan yang terus mengusikku sebagai seorang pencari hidayah…
Bisakah kita seperti para muallaf yang memiliki kobaran ghiroh keislaman yang dari ke hari tak pernah padam…??

Pertemuanku ini secara tidak sengaja atau memang karena rekayasa Allah SWT sebagai datangnya sebuah hidayah juga untukku. Waktu itu aku baru pulang kuliah dari kampusku yang berada sekitar jalan salemba Jakarta, perjalanan ke rumah (read : Bekasi) harus kutempuh dengan naik bis kota. Tiba-tiba naiklah seorang karyawati yang juga baru pulang dari kantornya dan segera mancari tempat dan dia mendapatinya dengan duduk di sebelahku. Tak berapa lama, biskota mulai penuh dan sesak oleh orang-orang yang juga baru pulang dari kantor atau tempat-tempat lainnya dan tak sabar ingin segera pulang ke rumah untuk bertemu keluarga mereka. Di sebelah bangku kami, berdirilah seorang bapak yang dengan gelagatnya membuat karyawati atau sebutlah namanya Bu Irma, yang duduk disebelahku ini merasa terganggu dan mulai mengeluhkan perilaku orang tersebut. Akhirnya Bu Irma dengan tegas menegurnya sehingga bapak tadi sedikit malu dan mulai berpindah tempat agak menjauh dari tempat duduk kami.

Berhubung insiden tadi, Bu Irma memulai perbincangannya denganku. Obrolan kami mulai dari pembicaraan ringan sampai pada akhirnya Bu Irma mulai bercerita tentang awal ketertarikannya dengan agama islam. Mungkin alasannya sharing karena melihat penampilanku dengan jilbab panjang ini. Subhanallah…, ternyata Bu Irma adalah seorang muallaf. Bu Irma adalah seorang muallaf yang mendapat hidayah dari Allah melalui perkenalannya dengan seorang teman dekatnya yang beragama islam, jika ku simpulkan dari ceritanya hubungan mereka cukup dekat (read : pendekatan ke jenjang nikah). Usia Bu Irma saat itu sekitar 24 tahun. Hubungan mereka tidak diketahui oleh orang tua Bu Irma, karena keluarga Bu Irma pengikut katolik yang taat dan pastinya jika mengetahui kedekatan dengan temannya itu, maka hubungan mereka mungkin tidak akan direstui. Bu Irma merasa kagum dengan temannya ini, Bu Irma melihat sosok kesholehan dalam dirinya. Semakin lama Bu Irma semakin tertarik pada Islam, dia mulai bertanya-tanya  dan mencari tahu tentang ajaran islam lebih dalam.

Sampai suatu ketika saat menjelang waktu shubuh tiba, Bu Irma mendengar suara adzan berkumandang tidak jauh dari rumah tinggalnya. Suara itu seakan-akan terdengar menyayat hati dan menusuk sanubarinya, sehingga membuat sekujur tubuhnya gemetar… Tak tertahankan lagi sampai-sampai Bu Irma terharu menitikkan airmatanya dan menangis. Mungkin itulah awal sebuah hidayah yang datang dari Allah. Dengan bantuan teman dekatnya, Bu Irma minta tolong untuk diislamkan oleh seorang ustadz. Alhamdulillah, total sudah hidayah itu datang dan langsung disambutnya, yang akhirnya menjadikan Bu Irma sebagai seorang muallaf…

Perjuangan Bu Irma masih berlanjut…***
Setelah keislaman yang belum diketahui orang tuanya, Bu Irma secara sembunyi-sembunyi menjalankan ibadah yang utama dalam ajaran islam, yaitu sholat 5 waktu. Hari-hari dilalui dengan bertambah keimanannya kepada islam. Suatu hari keimanan Bu Irma diuji oleh Allah. Dengan tidak sengaja, Bu Irma lupa mengunci pintu kamar tidurnya padahal hal ini selalu dilakukannnya setiap kali akan melaksanakan sholat. Itu semua dilakukan karena Bu Irma menghormati keluarganya yang beragama katolik dan masih mencari cara terbaik bagaimana menceritakan keislamannya pada keluarga besarnya. Setelah selesai sholat isya dengan kamar tertutup namun tidak dikunci dari dalam, tiba-tiba ibunya Bu Irma masuk ke dalam kamar dan sangat terkejut mendapati anaknya memakai mukena dan sedang menjalankan ibadah agama lain. Keterkejutan ini memuncakkan amarah sang ibu sehingga Bu Irma dimarahi dan dipukuli. Melihat ketidakpercayaan tersebut Ayah dan ibunya tiada henti-hentinya memarahi beliau dan meminta Bu Irma meninggalkan keyakinan barunya (read: islam), jika tidak dilakukannya orangtuanya mengancam akan memutus hubungan antara orang tua dan anak dan memintanya segera meninggalkan rumah.

Malam itu, Bu Irma tidak dapat memejamkan matanya, kebimbangan hatinya antara keyakinan terhadap islam dan pilihan keluarga terus mengusik benaknya. Keputusan yang mana yang harus dia ambil, teringat ceramah dari seorang ustad saat beliau menghadiri suatu pengajian bahwa hukumnya wajib menaati perintah orang tua asalkan perintah itu tidak bertentangan dengan keyakinan islam dan perintah Allah. Setelah sholat malam, Bu Irma kembali berdoa dan meminta petunjuk sampai akhirnya beliau mendengar suara adzan shubuh yang kembali berkumandang. Yah…suara ini adalah suara favorit Bu Irma karena setiap adzan berkumandang hatinya selalu bergetar. Keputusan bulat pun akhirnya diambil, tanpa bekal yang banyak hanya ada iman dan Allah bersamanya, Bu Irma meninggalkan rumah orang tuanya dan pergi ke luar kota.

Bu Irma pergi ke rumah seorang sahabat perempuan yang tinggal di Surabaya. Di sana dia mulai merintis kehidupannya lagi dengan bekal seadanya. Mencari pekerjaan dan mencari teman-teman baru. Alhamdulillah tidak lama disana, Bu Irma bisa mengontrak rumah sendiri dan memulai hidup barunya. Bu Irma kehilangan kontak dengan teman dekat yang telah mengenalkan islam kepadanya. Namun doanya tak terputus, semoga dia (read : yang dulu teman dekatnya itu) selalu mendapat penjagaan dan ridho Allah. Beberapa tahun berlalu sampai akhirnya Bu Irma menemukan jodohnya di Surabaya lalu menikah. Bahagianya Bu Irma, hidayah itu mendatangkan rezeki yang tak pernah putus dan tiada habis-habisnya. Bu Irma mendapatkan seorang suami sholeh yang dapat membimbingnya untuk terus mengenal islam dan anak-anak yang tiada henti mendoakannya. Cerita Bu Irma, setiap adzan shubuh anak-anaknya selalu bangun dan mendoakannya.. Kebiasaan yang sampai saat ini tetap dijalankan dan membuat haru hatinya. Karena suara adzan itu juga yang ,menghantarkan Bu Irma untuk menjadi SANG MU'ALLAF…

(Subhanallah… ini adalah kisah nyata potret kehidupan dan perjalanan seseorang yang mendapat hidayah dan telah dijemputnya dengan tangan terbuka. Biasakah kita yang terlahir sebagai islam menjadi seperti mereka yang tetap istiqomah walaupun datangnya hidayah itu harus mereka tebus dengan perpisahan dengan orang-orang tercinta, terlebih lagi orang tua..???)

dari cerita ini penulis ingin mengutip sebuah ayat Quran dalam surat Ali Imran ayat 19 :

~ISLAM SATU-SATUNYA AGAMA ALLAH~

"Sesungguhnya agama yang diridhai pada sisi Allah ialah Islam. Tidak ada pertikaian di antara ahli kitab mengenai hal itu, melainkan sesudah mereka mempunyai pengetahuan agama semata-mata karena kedengkiannya yang ada di antara mereka. Barangsiapa yang kafir kepada ayat-ayat Allah, hendaklah diinsyafinya bahwa Allah itu Maha cepat perhitungannya."

Wallahu’alam bishowab..
Cerita ini terilhami dari kisah nyata seorang muallaf yang saya temui di biskota saat pulang kuliah tahun 2003.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”
“Kalaulah orang menganggap sesuatu yang kita lakukan itu kecil, pastilah yang kecil itu akan menjadi besar kalau ada kesungguhan didalamnya”

Semoga Bermanfaat…
Pustaka Cerita FY-2009