Wahai Muslimah... Malumu mahligai yang tidak perlukan singgasana tetapi ia berkuasa menjaga diri dan nama... Malu adalah mahkota Yusuf yang membuatnya agung dihadapan tipu daya Imraatul' Aziiz Zulaikha... Malu adalah adalah perisai Abu Bakar Al Miski yang memakai Baju Besi lumuran kotoran manusia ketika seorang wanita cantik dan kaya mengajaknya berzina.!! Malu adalah pakaian Rasulullah sampai beliau lebih terjaga oleh rasa itu daripada gadis pingitan... Belajarlah menjadi pemalu dalam masalah kesucian diri.
Showing posts with label TAFAKUR HATI. Show all posts
Showing posts with label TAFAKUR HATI. Show all posts

Sunday, January 22, 2012

Ssssttt..!!! Cukup Allah sebagai Saksi



dakwatuna.com - “Bila ingin hidup ini tenang, tak usah hiraukan ada atau tidak ada orang yang melihat atau menilai amal-amal kita.

Wakafaa billahi syahidaa. Cukup Allah yang menjadi saksi.” (QS. Annisa: 79).

Itulah isi SMS taushiyah yang kirimkan oleh Aa Gym. Sangat menyentuh. Untuk kita yang selama ini masih terpaku pada penilaian manusia terhadap segala perbuatan yang kita lakukan. Penilaian manusia tak bisa di jadikan sebagai tolak ukur baik atau tidaknya perbuatan kita. Bisa jadi di mata orang ini kita mendapat pujian tapi di mata yang lain kita di nilai hanya mencari sensasi semata.

Cukuplah Allah menjadi barometer setiap gerak kita. Ke mana kaki hendak melangkah. Ke mana mata hendak memandang. Apa yang ingin telinga dengar. Terlalu melelahkan bila memikirkan apa yang orang lain katakan sedangkan berbeda orang sudah tentu berbeda pendapat. Jika apa yang kita lakukan sudah sesuai syariat, maka abaikan saja penilaian orang lain. Jika memang penilaian itu mengandung sebuah nasihat kebajikan, bukalah lebar-lebar telinga dan mata hati kita. Tapi tulikan telinga kita untuk cacian dan gunjingan mereka. Bukan berarti kita harus tinggi hati jika pujian mengarah pada kita. Hanya kepada Allah, sepatutnya pujian di haturkan. Kita bisa karena Allah. Allah yang menggerakkan hati kita, meringankan langkah dalam berbuat kebaikan.

Cukup Allah menjadi saksi. Karena Allah yang Maha Tahu isi hati kita. Sedihkah atau bahagiakah.

Sebagai contoh dari beberapa berita yang saya baca. Negara Korea menjadi negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Menurut Organization of Economic Cooperation and Developmemt, sebanyak 21 orang dari 100 ribu orang Korea melakukan bunuh diri.

Seorang Psikologi dari universitas Yonsei-korea, Hwang Sangmin, mencoba menganalisis fenomena bunuh diri ini. Menurutnya, orang Korea memiliki konsep Yan, dimana setiap orang berusaha bersikap diam dan tabah walaupun dalam keadaan marah. Terutama untuk kaum selebritis, pencitraan melalui konsep Yan amat besar dilaksanakan. Jika sudah di ambang batas, mereka cenderung putus asa dan akhirnya mengambil pilihan drastis untuk bunuh diri.


Itu karena di sana penilaian orang banyak menjadi tolak ukur yang utama. Image mereka ada di tangan orang banyak. Image mereka adalah kehendak orang banyak. Meskipun hal tersebut tak sesuai dengan hati nurani mereka. Terlebih bagi selebritas yang memiliki banyak penggemar. Mereka di tuntut menjadi seorang yang perfeksionis.


Faktor lain, karakter orang korea tergolong tertutup, sehingga para artis akan merasa malu jika ketahuan pergi ke konseling atau sedang depresi. Faktor agama juga tak kalah pentingnya. Hampir setengah warga Korea tidak memiliki agama, sehingga ketika mengalami depresi, penghargaan mereka terhadap kehidupan jadi rendah. Kepercayaan terhadap konsep reinkarnasi juga mendorong orang Korea mengakhiri hidupnya, dengan harapan kehidupan barunya akan lebih baik.

Akhirnya bunuh diri di anggap sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan masalahnya. Untuk selebritas, segala perilakunya akan di contoh oleh penggemarnya. Fanatik yang berlebihan dalam mengidolakan seseorang, membuat masyarakat Korea akan mengikuti tiap perilaku yang di lakukan idolanya bahkan jika idolanya bunuh diri maka mereka akan mengikutinya. Para fans seolah terinspirasi, untuk mengakhiri suatu masalah adalah dengan jalan bunuh diri. Melihat permasalahan tersebut pemerintah Korea kini sedang menggalakkan adanya konseling untuk mengurangi populasi bunuh diri. Di harapkan dengan seperti itu masyarakat Korea mau membuka diri guna menceritakan masalahnya.

Bagi kita yang memiliki Allah sebagai penawar hati di kala kesedihan datang, melalui ayat-ayatnya yang berisi kabar gembira bagi orang yang sabar dan selalu menyerahkan segalanya kepada Allah maka tak patut kita berputus asa. Karena sesungguhnya hanya Allah tempat segala curahan rasa. Hanya Allah sebaik-baik tempat mengadu. Hanya Allah sebaik-baik saksi dari perilaku kita.

Fenomena yang terjadi Korea bisa di ambil hikmahnya, membuka diri kepada seseorang yang di percaya untuk bertukar pikiran. Bukan berarti membuka aib atau mengabaikan Allah sebagai tempat mengadu. Tentu jika hal itu di lakukan dengan pertimbangan, bahwa kita melakukan ikhtiar dengan mencari perantara Allah untuk mencarikan jalan keluar dan tanpa berlebihan.

Semoga kita menjadi hamba yang selalu mengandalkan Allah dalam tiap gerak kita. MenjadikanNya sebagai saksi utama. KarenaNya kita berlaku bukan karena yang lainnya. Merasakan Allah selalu hadir lebih dekat dari urat nadi. Aamiin.

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS. Fathiir: 10)

Mencari kemuliaan dan kebahagiaan dengan harta benda dan penilaian manusia pasti tak akan pernah di dapat, hanya melelahkan batin dan semu belaka. Carilah kemuliaan di sisi Allah, di jamin bahagia, mulia yang asli dan kekal. (Aa Gym)

Allahua’lam.

Semangat dari Masalah


dakwatuna.com - Sedari lahir kita adalah pemenang dari sekian banyak sel telur yang berhasil dibuahi sperma. Dan sejatinya kita adalah pemenang. Pemenang yang di pilih Allah untuk menyampaikan risalahNya dengan berbagai kemampuan yang Allah titipkan dan dalam kesempatan apapun.

Mengapa selanjutnya kita sering merasa kalah dan menjadi pecundang? Banyak orang menunggu di berikan semangat oleh kita. Jangan pernah berpikir, “itu kan urusan Anda, bukan urusan saya jadi mengapa saya harus peduli?” Seorang teman pernah berkata, bahwa dengan kita bisa memotivasi orang lain, maka secara otomatis kita akan termotivasi.

Kita menjadi pemenang manakala kita mampu membuat diri kita bahagia dan membahagiakan orang lain, dengan kapasitas yang kita miliki tentunya. Salah satunya adalah dengan menyuntikkan semangat pada siapa saja yang membutuhkan. Tak perlu menunggu menjadi sukses untuk bisa memberikan kekuatan pada seseorang yang sedang lemah. Lebih baik berbagi dengan yang sedikit daripada tidak sama sekali. Karena sukses sendiri adalah ketika mampu berbagi semangat bahkan di kala kita lemah dan bangkit bersama menatap dunia. Tanpa sadar, hati dan bibir kita akan menyunggingkan senyum manakala ada secercah semangat yang kita hadirkan untuk orang lain. Siapa pun itu, baik yang kita kenal maupun tidak.

Karena pada dasarnya tiap manusia itu terlahir dengan membawa masalah. Masalah yang Allah berikan bukan tanpa makna. Karena dari masalah kita akan menemukan banyak pelajaran dan hikmah, bagi kaum yang berpikir. Termasuk diri kita. Masalah yang selalu hadir satu paket dengan penyelesaiannya. Masalah yang terkadang membawa kita pada keterpurukan, yang ketika kita bangkit akan membuka mata hati kita untuk melihat dunia dengan cara pandang yang berbeda. Semua itu tak lepas dari campur tangan Allah Ta’ala dan kedekatan kita padaNya. Karena sesungguhnya Allah tak pernah menyengsarakan hambaNya. Namun tak semua orang mampu membuka sendiri mata hatinya saat melihat masalah datang. Banyak yang terlena dan justru menjauh dariNya, menyalahi takdir. Masalah boleh datang memenuhi pikiran, tapi jangan sampai mengacaukan hati untuk selalu mengingatNya. Terus berusaha positive thinking. Bukalah setitik pencerahan yang Allah titipkan melalui perantara apapun dan siapa pun. Karena itu adalah cara Allah untuk membuka mata hati kita untuk mengingatkan bahwa Allah selalu ada untuk kita. Tak pernah sedikit pun Ia meninggalkan kita.

Manakala kita terpuruk, mungkin kita telah meninggalkan secercah semangat yang berusaha berlari mengejar kita yang mendahuluinya dengan menggenggam kesedihan. Kesedihan adalah lumrah. Karena dengan begitu kita akan menghargai hadirnya kebahagiaan. Tapi jangan pernah memanjakannya. Jadi ketika masalah datang, tempatkan kesedihan di tangan kiri dan taruh semangat di tangan kanan. Supaya ketika ada orang yang membutuhkannya, kita dapat langsung memberikannya. Abaikan kesedihan dan lemparkan semangat ke seluruh dunia. Berikan senyum terindah dari hati. Biar kesedihan menjadi konsumsi kita dan serahkan kepada Allah. Biar Allah saja yang membantu kita. Cukup Allah.

Allahua’lam.

Nol Bukan Kosong


dakwatuna.com - “Isi adalah kosong. Kosong adalah berisi”

Kalimat itu pernah kudapat dari film kera sakti. Kalimat yang pernah diucapkan oleh guru sun go kong, biksu Tong Sam Cong.

Sedangkan salah satu dosenku pernah bilang bahwa perkataan itu tidaklah benar. Kosong, ya tetap kosong. Berisi, ya berisi. Tidak mungkin orang yang tidak pernah mau mengisi otaknya dengan belajar bisa serta merta otaknya menjadi berisi dan bisa disamakan dengan orang pintar. Oleh karena itu, kosong tidak berisi dan berisi tidaklah kosong.

Berbicara tentang kosong, aku teringat pada sebuah angka yang ditemukan oleh Al Khawarizmi. Angka nol. Angka yang kemudian menyempurnakan banyak bilangan.

Apakah nol sama dengan kosong? Jawabannya adalah belum tentu.

Jika nol berdiri sendiri, angka ini tidak mempunyai arti, alias nol sama dengan kosong. Tapi tanpa angka nol, semua bilangan bisa menjadi kacau. Tak kan ada bilangan ganjil dan genap jika tidak ada angka nol. Bayangkan jika orang berhitung dari angka 1. Setelah angka 9, lalu angka apa? kalau saja tak ada angka nol, setelah Sembilan langsung angka 11. Lalu pertanyaannya, angka 11 itu ganjil ataukah genap? Jika ganjil, maka angka 9 angka ganjil atau genap? Jika hitungan itu diteruskan, akan terjadi ke-tidak-konsekuen-an antara bilangan ganjil dan genap. Angka 1 disebut ganjil, lalu angka 11 termasuk apa? angka 21, 31, 41, jenis bilangan apa? Alhamdulillah seorang ilmuwan muslim telah memecahkan permasalahan ini. Dengan angka nol yang telah ditemukan oleh Al Khwarizmi, masalah itu bisa dibereskan dan ilmu menjadi berkembang seperti saat ini.

Segala hal yang diciptakan oleh Allah mengandung banyak pelajaran. Tak terkecuali angka nol. Banyak orang yang menganggap amalan-amalan kecil bernilai kosong, bukan nol. Akibatnya, banyak yang tidak mau mengerjakan amal-amal kecil. Memungut sampah di jalan, misalnya. Menyelamatkan semut yang berada di tengah-tengah air yang sedang berjuang mencapai daratan, menyirami bunga yang layu, memberikan uang recehan pada anak jalanan yang mengelap motor di perempatan lampu merah, membantu menyeberangkan orang tua, mengucapkan salam setiap bertemu saudaranya, tersenyum, atau amalan-amalan kecil lainnya yang sering kali enggan dilakukan karena “nilainya” kecil. Padahal sesuatu yang kecil yang dilakukan secara terus-menerus lebih baik dari pada sesuatu yang besar, tapi bersifat insidental. Sedikit-sedikit, lama-lama akan jadi bukit.

Layaknya angka nol yang seringkali disamakan dengan kosong. Amalan-amalan kecil pun sering dianggap kosong. Padahal sebenarnya tergantung dimana meletakkan angka nol itu. Jika nol diletakkan sebelum angka 1, maka nilainya hanya 1, meskipun jumlah yang dituliskan banyak. Inilah gambaran orang yang menyepelekan amalan kecil. Tapi jika letaknya setelah angka 1, nilainya akan jauh lebih besar, walaupun jumlah angka nol yang ada hanya sedikit. Dua buah angka nol dituliskan sebelum angka 1, akan menjadi sia-sia, 001 tetap sama dengan 1. Jika dibalik, akan menjadi 100, lebih banyak dari angka 1. Jika melakukan amalan, meskipun kecil, tapi diniatkan untuk ibadah, maka ibarat angka nol yang diletakkan setelah angka 1, Ia berlipat ganda.

Terkadang sesuatu yang kecil itu sering disepelekan, tapi sesungguhnya dari hal-hal yang kecil inilah bisa menghasilkan sebuah perubahan besar.

Jika belum mampu melaksanakan yang besar, istiqamahlah pada yang kecil. Karena segala hal yang besar itu tersusun oleh hal-hal yang kecil. Tanpa adanya sekumpulan sel, otot tidak akan pernah terbentuk. Tanpa adanya proton-netron, atom tak akan ada. Tanpa adanya tentara-tentara yang hebat, panglima perang tidak akan berdaya melawan musuhnya.


Monday, December 26, 2011

KESHALIHAN IBARAT REZEKI HIDAYAH DARI ALLAH



Keshalihan itu banyak ragamnya. Ia seperti keimanan yang oleh Rasulullah SAW dikatakan mempunyai banyak cabang-cabang, yang tertinggi adalah kalimat Laa illaha illallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan onak duri dari jalanan. Keragaman keshalihan itu tentu membuat kita yang ingin menjadi shalih akan kesulitan untuk mengamalkannya. Sebab kita manusia yang memiliki serba keterbatasan.

Semua orang ingin sempurna. Namun sempurna itu melelahkan
Hanya dengan bersyukur, nikmat sempurna akan tercapai

“MAKA NIKMAT TUHANMU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN…?”
(QS.AR-RAHMAN)

Sepanjang sejarah jarang ditemukan sosok yang dapat merangkum sekian ragam keshalihan itu. Tentunya selain Rasulullah SAW, sosok Abu Bakar ra. yang pada suatu pagi ketika Rasulullah mengajukan beberapa pertanyaan kepada para sahabatnya: Siapa diantara kalian yang telah menjenguk orang sakit pagi ini? Siapa yg telah memberi sedekah? Dan siapa yang telah mengantarkan jenazah orang yang meninggal? Sepagi itu tentu saja belum ada yang melakukannya. Namun secara mengejutkan, Abu Bakar Ash Shiddiq mengacungkan tangannya, dan mengatakan: ”Saya telah melakukannya, wahai Rasulullah.” Demikianlah, hingga Umar ibn Al Khaththab pun mengakui bahwa, ”Sesungguhnya aku tidak akan mungkin menyamai pria yang satu ini..”

Keshalihan itu ibarat rezeki dari Allah. Allah-lah yg mengaruniakan hidayah kepada kita semua untuk mengerjakan sebuah keshalihan, sekecil apapun itu. Maka sebagaimana rezeki, ada orang yang mendapatkan keshalihan berlimpah namun ada yang biasa-biasa saja. Ada orang yang dibukakan pintu rezekinya dari arah perdagangan, namun ada pula yang dibukakan dari pintu lainnya. Tentu jika kita hanya mendapat limpahan rezeki yang tidak seberapa, kita tidak boleh berhenti untuk bekerja keras. Seperti itu pulalah keshalihan, perlu kerja keras untuk menjadi lebih shalih dari hari ke harinya, tidak bisa dipaksakan oleh siapapun, karena hati dan pintu hidayah datangnya dari Allah dan hanya akan terbuka dengan dakwah mengajak dan penuh kelembutan…

MANUSIA TIDAK DAPAT MEMBERIKAN HIDAYAH
Suatu hari ada pemuda datang ke rumah sang ustad, untuk meminta izin menikahi seorang wanita, namun bukan wanita shalih & belum berhijab. pemuda tersebut berjanji kepada ustad bahwa nantinya dia akan membuat wanita itu memakai hijab. Dengan bujukan pemuda, akhirnya ustad mengizinkan pemuda tadi untuk menikah. Setelah pernikahan berlangsung selama 2 tahun, pemuda tersebut datang kembali ke rumah ustad & menyampaikan maksud untuk menceraikan istrinya. mendengar permintaan pemuda, ustad kaget dan tidak percaya. Sang ustad menanyakan alasan kenapa si pemuda minta bercerai dari istri pilihan hatinya. Pemuda tadi menjelaskan bahwa sampai 2 tahun ini dia belum juga mampu membuat istrinya memakai hijab dan menghantarkan hidayah untuk istrinya.

Masya Allah… Dari kisah itu, kita sadari bahwa keimanan, keshalihan dan niat sebaik apapun yang menjadi harapan kita. Jangan menjadikan kita takabur dan melampaui keesaanNYA. Kalaulah Allah belum mengizinkan tidak akan mungkin terjadi. Begitupun syiar islam, kita hanya bisa berusaha sebaik-baiknya, sedangkan hasil itu urusan Allah. Allah tidak menilai segala sesuatu dari HASIL-nya tapi lebih kepada PROSES dan CARA.


KISAH RASUL DAN PAMANNYA.
Rasul memohon kepada Allah untuk membukakan pintu hati pamannya untuk memeluk Islam. Apalagi ketika paman Rasul sedang sekarat, Rasul meminta pamannya mengucap kalimat syahadat sekedar mengakui bahwasanya Allah adalah Tuhan sejati kita. Abu Thalib masih berkeras dengan keyakinannya yang lama. Dia berdiri disamping Muhammad dan membelanya karena ia begitu menyayangi keponakannya itu. Sampai ajal menjemput Abu Thalib masih dalam keadaan kafir. Allah tidak memberikan Hidayah-Nya kepada Abu Thalib. Sehingga Allah memberitahukan Muhammad untuk menghibur hatinya yang sedih bahwa sang paman akan mendapatkan siksaan yang paling ringan di neraka. Meski ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwasanya Abu Thalib masuk ke barisan mukmin karena kegigihannya membela dan mencintai Rasul, tetapi semua itu hanya Allah yang tahu.

SEPUCUK SURAT DARI IMAM MALIK
Terilhami dari sepucuk surat yang pernah dikirimkan Imam Malik kepada seorang sahabatnya Abdullah Al ‘Umary. Abdullah Al ‘Umary adalah seorang ahli ibadah yang bermukim di Mekkah. Ia tidak mempunyai aktivitas lain selain mengerjakan ibadah seraya beruzlah saja. Dia mungkin berpikir bahwa itulah ibadah yg paling disukai Allah Ta’ala,

Maka ia pun menulis surat yang ditujukan kepada Imam Malik ibn Anas di Madinah. Isinya adalah ajakan kepada Imam Malik agar meninggalkan Madinah dan mengikuti jejaknya beruzlah di Mekkah agar lebih berkonsentrasi menjalankan ibadah. Ia meminta sang Imam untuk tidak lagi mengajar dan menyampaikan ilmu yang ia miliki.

Dan ketika Imam Malik menerima surat itu, segera saja beliau menyiapkan balasannya. Dan surat balasan itu berbunyi : “… Sesungguhnya Allah telah membagi amalan (keshalihan) itu sebagaimana Allah telah membagi rezeki. Terkadang ada orang yang dibukakan jalannya untuk lebih banyak mengerjakan shalat namun tidak dibukakan untuknya jalan untuk lebih banyak berpuasa.

Ada pula yang lain yang mungkin dimudahkan untuk banyak bersedekah, namun tidak dibukakan jalan untuk banyak berpuasa. Mungkin ada juga yang lain, yang dimudahkan untuk berjihad (namun tidak dibukakan untuk yang lainnya).

Adapun menyebarkan ilmu itu adalah salah satu amal keshalihan. Dan saya sudah merasa ridha terhadap jalan yang dibukakan (Allah) untukku ini. Dan saya yakin bahwa apa yang saat ini aku kerjakan tidak lebih buruk dari apa yang tengah engkau kerjakan. Namun, saya tentu berharap kita berdua berada dalam kebaikan dan keshalihan…”.

Setiap kita diberikan pintu rezeki dari arah yang berlainan, begitupun dalam hal berdakwah. Namun bisakah kita memaksakan apa yang menjadi keyakinan kita kepada orang lain…??? Serukan kebenaran kepada siapa saja, karena kita tak akan pernah tahu kapan hidayah itu akan menghampiri hambaNYA.

Yang terpenting kita sampaikan amanah dari Rasulullah:
“SAMPAIKAN DARIKU WALAU SATU AYAT”

Allah mengaruniakan manusia dengan berbagai Kecerdasan Berpikir (read:Multiple Intelligence) yang memiliki keunikan tersendiri. Sama halnya dengan kecerdasan tersebut, kita juga memiliki karakter unik yang tidak dapat disamakan antara satu dengan yang lainnya. Namun hargailah setiap perbedaan unik dari karakter itu dan saling memahami dalam kebaikan karena Allah.

Hati akan berpendar cahaya hanya bila iman pun menebar cahaya di setiap relung-relungnya.
Walaupun ada kalanya iman itu lemah,
 Maka sumber kekuatan hati kita berkitar dipusaran iman yang kita punya hingga bisa mencerahkannya kembali…

Nasehat dari seorang sahabat :
Dibalik pemberian Allah, kuminta pada Allah setangkai bunga segar, Allah beri aku kaktus berduri…
Aku minta pada Allah binatang mungil nan cantik, Allah beri aku ulat berbulu…
Aku sempat sedih, protes, dan kecewa.. Betapa tidak adilnya ini…
Namun kemudian, kaktus itu berbunga, sangat indah sekali…
Dan ulat itupun tumbuh & berubah mjadi kupu-kupu yang cantik…
Itulah jalan Allah … Indah pada waktunya…!!
Terkadang Allah tidak memberikan apa yang kita harapkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan.

Tetap istiqomah:
Kepada Jiwa-jiwa Qurani: “Qum Fa Anzir!”
Kehadiran kalian telah dinantikan, tetesan penyejuk iman jangan disiakan.
Sabda Rasulullah: ‘Sampaikan dariku walau 1 ayat’…
“Wa rabbaka fakabbir!”
 Hanya Allahlah seruan kebenaran itu ditegakkan mulai nabi Adam As hingga Rasulullah Saw,
ikuti risalah yang kekal adanya “Qul hu Allahu Ahad”…
Bagimu penerus risalah pekerjaan muliamu balasan dari Allah berupa surga telah menanti.
Doa dan ukhuwah setitik asa berharap semoga Allah selalu menjaga, mengampuni & mberkahi setiap langkahmu dijalan ini
Kelak di Yaumil Akhir, kala Allah bertanya kepada kita: ”Sudahkah kebenaran itu disampaikan kepada manusia?”
Kita dapat menjawab: kita sudah melakukannya semampu kita, sehingga kita selamat dari azabNya yang pedih…

Banyak cara dan metode dakwah para da’i yang terkadang tidak sama satu dengan yang lainnya, namun tetaplah berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak tercerai-berai karena pada dasarnya kita adalah MUSLIM (memiliki Tuhan yang sama: ALLAH SWT, Rasul yang sama: MUHAMMAD SAW, pedoman yang sama: QURAN & HADITS, dan tujuan yang sama mencari bekal untuk mencapai SURGA AKHIRAT-NYA).


KUTIPAN DARI IMAM HASAN AL BANNA
"Sesungguhnya kita ini kuat dengan bantuan Allah, dan tidak akan pernah lemah selamanya karena pertolongan Allah. Kita ini mulia karena Allah & tidak akan hina selamanya karena Allah. Kaya karena Allah & tidak akan fakir selamanya kerena Allah. Kami ingin mengajarkan umat dengan sikap yang baru yang sesuai dengan nilai-nilai islam. Kami ingin membina umat dengan akhlak Islam & menuntun mereka dengan pola hidup Islam. Agar umat bisa berjalan dibelakang pemimpinnya yang paling agung. Pemimpin yang paling mulia, Muhammad SAW...." dan jika ada perselisihan antara umat Islam serahkan semua urusannya kepada Allah SWT:


"Allahlah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali." (QS.Asy-Syura:15)

Hidayah adalah sebuah petunjuk yang Allah berikan kepada manusia. Sebuah petunjuk yang Allah sebar dimana-mana. Apakah setiap orang akan mendapatkan hidayah? Hanya Allah-lah yang tahu jawabannya. Allah menjelaskan dalam Al Quran bahwa siapa saja yang mendapatkan hidayah-Nya akan Allah lapangkan hatinya dan merasa mudah dalam melakukan ibadah. Dimana hati selalu dipenuhi akan kerinduan kepada-Nya. Nama-Nya selalu hadir didalam diri kita. Bahkan hati akan bergetar ketika disebut asma Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. Orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian rezeki dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh derajat ketinggian disisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.” (Qs.Al Anfal: 2-4)

Semoga ketika kita merasakan rindu kepada Allah hadir dalam diri. Kita pun menyadari bahwasanya rindu itu adalah hidayah. Keshalihan ibarat rezeki hidayah dari Allah, maka berusahalah  mencarinya, mendapatkannya, meraihnya dan lakukan amal shalih itu dengan istiqomah. 
Selamat berjuang kawan…!!!

Wallahu’alam bishowab

Sumber:
1.    Quran dan hadits
2.    Inspirasi ilham dari Allah yang terangkum dalam Pustaka Cerita FY 2009
3.  Sebagian besar artikel ini dikutip dari buku RINDU YANG BERUJUNG SURGA, karya “Abul Miqdad Al-Madany” terbitan MIRQAT.
4.  Kutipan Imam Hasan Al Banna: Tsawabit dalam manhaj gerakan Ikhwan, karya jum'ah Amin Abdul Aziz, terbitan Asy Syaamil.
5.  Cerita para da’i dari kajian yang pernah saya dihadiri, share pengalaman dari sahabat-sahabat

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.
“Kalaulah orang menganggap sesuatu yang kita lakukan itu kecil, pastilah yang kecil itu akan menjadi besar kalau ada kesungguhan didalamnya”.


By: FY
~ Semoga Bermanfaat ~

Saturday, December 24, 2011

PIKIRAN kita sedahsyat fungsi HATI

Bismillahirrahmanirrahim... 
Langit cerah biru terang, hamparan putihnya awan 
Sudut ruang persegi panjang 
Secercah harapan yang belum terwujud 
Secarik kertas impian yang ingin tercapai suatu saat nanti 
Dalam waktu dan ruang harap 
Perlu tekad dan azzam 
Atas keinginan yang terbentur kelemahan dan ketidaksukaan 
Memory otak manusia beragam dengan keterbatasannya 
Bagi yang kuat dan bagi yang lemah 
Bagiku adalah yang kedua, sulit sekali gunakan otak ini untuk nge-save memori 
Teori logika sederhana tidak mau dinomerduakan 
“KUN FAYAKUN” semua mungkin dengan tekad dan kemauan 
Tinggal bagaimana meminta bantuan kepada Allah sang Pemilik cita dan harapan 

Seorang teman pernah menanyakan pendapat saya : 
“Mana yang lebih berperan PIKIRAN atau HATI dalam menentukan kekuatan sikap..?” 

Pertanyaan itu mengingatkan dengan sebuah buku yang pernah saya pelajari waktu kuliah pada mata kuliah psikologi perkembangan. Ada organ lain dalam tubuh kita yang mirip fungsinya dengan HATI dan berada di dalam otak. “Amigdala”, katanya sih besarnya gak jauh beda dari kacang almond karena asal kata “Amigdala” yang berarti “Almond” dalam bahasa yunani. Tertumpu pada batang otak, dekat alas cincin limbik, ada dua amigdala di setiap sisi otak, disisi kepala. Perannya sangat luar biasa, Kalo gak ada dia, kita gak bisa merasakan yang namanya esmosi (red:emosi). Dipukul orang kita gak akan marah, dijahatin teman kita gak akan nangis, ada yang ngelawak kita juga gak akan bisa tertawa lepas, dikelitikin ga akan geli juga kali yah?? Gak Cuma manusia yang punya amigdala, binatang juga punya hanya ukurannya lebih besar pada manusia dan fungsinya sebagai pusat emosi atau letak semua nafsu. Konon jaman dahulu waktu ilmu kedokteran belum secanggih sekarang dan belum ada obat yang bisa mengendalikan penyakit epilepsi dan penyakit hilang akal atau gila. Para dokter mencoba menyembuhkannya dengan memisahkan dan membuang amigdala dari otak pasien. Ada seorang kerabat pasien yang pernah memberikan kesaksian bahwa suaminya menjadi terlalu SABAR bahkan diluar kesabaran orang normal dan hampir seperti mayat hidup akibat operasi dokter yang mengambil amigdala suaminya karena penyakit gila yang dideritanya tak juga sembuh. Alhamdulillah jaman sekarang sudah canggih jadi gak perlu treatment seperti itu lagi, hanya butuh obat dan terapi rutin serta pendekatan spiritual, Insya Allah bisa disembuhkan. 

Masih banyak lagi fungsinya “amigdala”. Pernah terbangun malam hari karena mendengar sesuatu mencurigakan seperti ada orang yang akan masuk rumah kita (maling gitu). Bagaimana respon kita? Siap-siap dan ambil pentungan? Atau ambil parang, golok, pisau? (ihhh serem ajah..). Tapi itulah reaksi wajar, ketika kita mendengar ada bahaya mengancam. Di sinilah fungsi amigdala yang secara cepat merespon. Jika mencermati siklus berpikir kita, ternyata panjang loh teman, mulai dari mata atau pendengaran menerima sinyal lalu diteruskan ke talamus lalu neokorteks setelah dipilah baru masuk ke amigdala sebagai perespon emosi (penjelasan sebenarnya panjang, tapi karena saya bukan ahlinya jadi gak bisa detail dan maaf kalo salah tulis). Jadi saat kejadian bahaya, sinyal yang ditangkap oleh mata dan pendengaran bisa juga langsung ke talamus lalu ke amigdala tanpa siklus panjang tadi alias reaksi emosi spontan (padahal neokorteks saat itu masih sedang berproses)-hasil penemuan LeDoux (gak tahu siapa itu LeDoux, pakar kejiwaan kali yah..?). 

Singkatnya Amigdala adalah letak semua nafsu dan spesialisnya emosi, seperti : sedih, senang, marah, dan sebagainya. Dari masa kecil kita sampai sekarang, kadang ada pengalaman dan peristiwa yang kita ingat namun tidak terlalu banyak. Ada yang sedih ditinggal mati kucing kesayangannya, seneng banget dapat hadiah ultah yang bagus dari ayah dan bunda, atau pernah marah dan kesel sama teman kita. Sebagian memori yang masih tersimpan adalah ingatan terbaik dan mungkin mengikutsertakan perasaan yang paling berkesan dibanding pengalaman kita yang lainnya. Disanalah fungsi amigdala dalam pikiran kita, rangsangan amigdala nampaknya membekas sebagian besar emosi ke dalam ingatan, sehingga kita cenderung ingat akan kejadian-kejadian tertentu. 

Ternyata PIKIRAN berpengaruh sangat besar atas kehidupan kita, tersimpul dari pembahasan diatas. Bayangkan jika kita tidak punya AMIGDALA dalam otak yang ternyata fungsinya sedahsyat hati, maka tidak akan ada perasaan-perasaan yang normalnya dimiliki manusia. Kenangan, kisah, memori indah, motivasi, semangat, cita-cita dan bagaimana kita mengambil sikap dalam kehidupan ini sangat dipengaruhi oleh hati dan pikiran. 

Perhatikanlah! Lintasan HATImu karena ia akan menjadi PIKIRANmu 
Perhatikanlah! PIKIRANmu karena ia akan menjadi PERKATAANmu 
Perhatikanlah! PERKATAANmu karena ia akan menjadi PERBUATANmu 
Perhatikanlah! PERBUATANmu karena ia akan menjadi KEBIASAANmu 
Perhatikanlah! KEBIASAANmu karena ia akan menjadi KARAKTER(akhlak)mu 
Perhatikanlah! KARAKTER(akhlak)mu karena ia akan menjadi NASIBmu 

Dari artikel diatas, silahkan menyimpulkan sendiri lebih penting peran PIKIRAN atau HATI bagi kita dalam menentukan sikap..? Dan renungkanlah manfaat menjaga PIKIRAN dan HATI agar tetap dalam kebaikan karena pengaruhnya yang sangat besar untuk menentukan langkah dan sikap kita sebagai hamba-Nya yang beruntung. Insya Allah! 

Sabda Rasulullah : “Sesungguhnya di dalam diri manusia itu ada segumpal daging, bila ia baik maka baiklah seluruh jasad, bila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad, dan segumpal daging tersebut bernama “HATI”.” (HR.Bukhari). 

Sabda Rasulullah : “Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia telah beruntung. Barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi. Dan barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia terlaknat.” (Al Hadits). 

Wallahu’alam bishowab. 
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk renungan saya pribadi dan para pembaca. 

Sumber & Referensi : 
1. Al Hadits 
2. Emotional Intelligence, Daniel Goleman 
3. Pengalaman dan share dari sahabat-sahabat 

Bekasi, Oktober 2011 
By : FY (yang sedang belajar psikologi dalam perspektif islam) 





Friday, December 2, 2011

Antara Cintaku, Cintamu Dan Cinta-Nya

TTM [Ta’aruf Tapi mesra]

Inilah yang sering dilakukan oleh aktifis dakwah yang hatinya tidak bertameng keimanan. Jikalau ia bertameng, perisai tersebut memiliki gagang pegangan yang rapuh.Awal niatan berharap wajah Allah, rahmat dan naungan-Nya, akan tetapi terpaan badai godaan asmara terlarang bak gelombang yang datang bertubi-tubi, mengikis pingiran pantai keimanan perlahan-lahan. Padahal pinggiran pantai sudah terlindungi ilmu selebat hutan mangrove.

Bagaimana terpaan badai godaan asmara yang dasyhat itu?

Saling berhubungan langsung dengan HP,e-mail, inbox FB dan jejaring sosial. Awalnya sangat saling menjaga diri, menggunakan kata-kata yang sopan, serius dan to the point. Akan tetapi siapa yang tahu setan menyelinap berkelit-kelit dalam sinyal HP, menerobos paksa password e-mail dan bersembunyi di inbox FB. Bersamaan dengan berlalunya waktu yang tidak sebentar, maka kata-kata dan kalimat yang bertukaran antarkeduanya bermetamorphosis, metamorphosisnya sepasang kupu-kupu siap berkawin. Muncullah kalimat yang belum layak mencapai waktu prosanya,

“wahai calon ibu dari anakku, semenjak kita mulai ta’aruf saya jadi lebih bersemangat menjalani hari, apalagi jika kita menikah nanti, K.A.N.G.E.N ^^”

“Daku tak menyangka pangeran berjanggut tipis itu adalah engkau, maju ta’aruf dengan gagah berani, kegelisahan rindu ini memang harus berujung dibelaian kedua tanganmu dalam dekapan, segera, segera dan segera majulah wahai mujahidku”

Yang parahnya adalah bertemu langsung dengan mudahnya dan sudah tidak ada lagi yang membedakan mereka berdua dengan apa yang kita temui di jalan-jalan, di pasar, di mall dan di pusat keramaian manusia. Tidak ada bedanya dengan mereka yang menggenjot pedal gas hawa cinta menerobos peringatan merah di jalan keramaian syariat. Mereka yang sudah diperingati dalam hadits Rasulullah shallahu alaihi wa sallam seolah-olah menghalalkannya di jalan-jalan.

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Abu Malik al Asy’ari bahwa dia mendengar Nabishallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Sungguh ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan [menganggap halal] perzinahan, sutera, minuman keras, dan musik-musik.” [HR. Bukhari]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallah ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,

” وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا تَفْنَى هَذِهِ الْأُمَّةُ حَتَّى يَقُومَ الرَّجُلُ إِلَى الْمَرْأَةِ

فَيَفْتَرِشُهَا فِي الطَّرِيقِ، فَيَكُونُ خِيَارُهُمْ يَوْمَئِذٍ مَنْ يَقُولُ: لَوْ وَارَيْتَهَا وَرَاءَ هَذَا الْحَائِطِ» .

“Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa umat ini sehingga orang-orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (ingin bercumbu dan berzina) dan di antara mereka yang terbaik pada waktu itu berkata, “alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini di balik dinding ini.” (HR. Abu Ya’la no. 12746, Al-Haitsami berkata, “perawi-perawinya shahih.” , lihat Majmu’ Zawaid 7/331, Maktabah Al-Qudsi, Koiro, 1414 H, Asy-Syamilah]

Diriwayatkan dari al-Nawwas radhiallah ‘anhu,

وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

“Dan ingatlah manusia-manusia yang buruk yang seenaknya saja melakukan persetubuhan seperti keledai. Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang.”[HR. Muslim]

Sebaiknya mengunakan perantara comlang yang sudah bersuami-istri sehingga tidak ada celah untuk setan berkelit. Karena sekuat-kuat iman seseorang ia belum tentu mampu menahan gejolak cinta. Inilah yang pepatah yang populer di zaman kakek-buyut kita “Sedikit-dikit lama-lama menjadi bukit”. Ya, itulah cara setan menggiring manusia secara perlahan. Akan tetapi pembawa syariat shallallahu ‘alaihi wasallam jauh lebih cerdas dibandingkan setan. Cara ini tidak berlaku jika selalu menggenggam kaidah beragama,

سد الذرائع

“Menutup jalan menuju keburukan”

Yaitu jangan sampai ada hubungan yang tidak perlu jika belum waktunya, jika hubungan itu sangat perlu dalam ta’aruf demi mengenal, maka gunakanlah perantara comblang.

Merasa sudah menjadi setengah miliknya

Ketika kedua orang tua sudah saling menyerahkan dalam seremoni sederhana semiformal, yang satu berkata perkataan meminta dan yang satunya lagi melafadzkan mengabulkan. Tentunya dengan ridha pemuda yang mantap meminta dan ridha sang gadis yang tersipu meminta dijawabkan perkatan mengiyakan.

Akan tetapi rentang waktu injury antara yang tidak lama antara aqad yang memberi pagar bagi wanita dengan aqad menghalalkan, terkadang disalah pahami dengan keyakinan yang dibenarkan atau apa yang didefinisikan sebagai salah kaprah. Salah menilai bahwa sudah sama-sama saling memiliki setengahnya atau semi memiliki. Boleh semi saling bermesraan, boleh semi saling bersentuhan, boleh semi berduaan, boleh semi khalwat.

Atau mereka sebenarnya sudah tahu sebenar-benar mengetahui, terutama ikhwan dan akhwat yang mendapat anugrah meneganal dakwah ahlus sunnah berdasarkan pemahaman salafus shalih.kita khawatir dengan peringatan Allah bagi mereka yang sudah tahu tapi menyimpang maka Allah membuat hati mereka semakin menyimpang dan bahkan bisa takkan kembali. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Tatkala mereka menyimpang maka Allah pun simpangkan hati mereka.” [Ash-Shaff: 5]

mereka seolah-olah membuat-buat alasan dengan menyebut orang-orang besar saja tidak mampu menahan gejolak cinta. disebutlah Fatimah sebelum menikah dengan Ali, disebutlah Umar bin Abdul Aziz dengan hamba sahayanya dan disebutlah Mughits, sahabat budak, yang memelas-melas agar cinta jangan hilang dari Barirah yang baru saja merdeka. Memang mereka bergejolak karena cinta, tetapi mereka bisa dan mampu menyikapi cinta dalam koridor syariat.

Perlu disadari benar bahwa khitbah bukanlah penghalal, khitbah hanya sekedar memagari dari invasi lainnya. Dan memberi ketenangan dengan memegang satu-satunya tiket ke final perjumpaan terindah. Sehingga hal-hal berikut yang perlu dihindari:

-Terlalu seringnya berjumpa, sang ikhwan bermain-main kerumah akhwat tanpa ditemai mahram, Bercanda-canda dan bermain seperti anak kucing yang memainkan pintalan benang. Setiap kali datang selalu beroleh tangan hadiah-hadiah yang membuat sang ahkwat semakin bermekaran meninggalkan kelopak kehormatan dan malu. Atau yang parah, tempat yang dijanjikan untuk bertemu adalah beranda-beranda masjid dan pojok-pojok tiang penyangganya. Dengan dalih berbagai urusan agama yang diduniakan. Intinya tidak bersabar berpuasa dan tidak sabar berbuka disaatnya nanti.

-bermudah-mudah bermesraaan, apalagi yang digunakan, tentunya dengan bantuan kemajuan teknologi SMS, internet dan jejaring sosial. Jika kita mengecek Handphone maka kita akan dapati yang semisal ini,

“akhi, nanti kalau sudah menikah saya maunya istana sederhana kita dicat warna ungu muda kombinasi dengan merah muda ya”

“ukhti, saya ingin agar engkau melahirkan untukku anak laki-laki sebagai anak pertama kita, supaya anak kita berjihad di jalan Allah”

Yang agak parah,

“pangeran, sebentar lagi engkau akan menjadi rajaku, kok nggak sms-sms sih? Khan aku kangen, pengen di manja dengan kata-kata romantis”

Dan dibalas,

“sabar chayank, diriku sibuk kan mempersiapkan segalanya agar engkau sah menjadi ratuku, ketahuilah, entah kenapa wajahmu selalu terbayang dan tidak bisa lenyap, jadi ingat bagaimana Jibril membawa gambar A’isyah kepada Nabi kita”

Sebaiknya kita bersabar, setelah khitbah, tetap gunakan perantara comlang yang sudah bersuami-istri atau langsung berhubungan dengan keluarganya. Jauhkan godaan setan untuk langsung berkomunikasi. Godaan yang seperti ini sangat dasyhat, entah kenapa pengalaman kami membuktikannya, ikhwan yang terkenal sangat istiqamah, tetapi dalam hal ini sangat bermudah-mudah menghalalkan. Kita harus harus sangat berhati-hati dalam hal ini.

Jatuh cintalah kepada banyak orang?

Ada satu prinsip yang salah, tetapi masih saja ada penganutnya, bahkan kami dengar, ini dari seorang ustadz yang dikenal di Indonesia sebagai spesialis ustadz cinta karena terkenal dengan bukunya. Dan banyak juga penganutnya. Yaitu agar tidak kecewa banyaklah jatuh cinta kepada orang. Dengan kata lain semisal seorang ikhwan, maka ia mengejar beberapa akhwat, memberi lampu hijau kode-kode semi rahasia yang menggetarkan hati beberapa akhwat, menggetarkan hati dengan pandangan tajam berbalut malu diikuti tarikan wajah kebawah seolah menundukkan pandangan, memberikankan secuil perhatian tetapi sudah sangat menggetarkan.

Mengapa harus ke beberapa orang?

Alasan mereka agar tidak kecewa nantinya, memiliki banyak target dan cadangan. Jika yang target yang satu telah ada penjaga resminya, maka ia masih ada target yang lain.

Lebih-lebih akhwat di balik kegalauan dan kecemasaannya, maka prinsip ini cukup menenangkan bagi mereka, mengirim sinyal-sinyal lembut yang lebih menggetarkan lagi, membuka beranda hati untuk disinggahi beberapa ikhwan. Beberapa ikhwan yang ia anggap masuk kriteria, maka ia berusaha membakar, jika tidak ada api kobaran cinta, minimal ada asap berbau asmara. Ia hanya membuat-buat getaran saja, sehingga kelak ada beberapa ikhwan yang menaruh harapan kepadanya. Atau ada salah satu yang kelak akan maju.

Kita katakan prinsip ini kurang tepat. Ini bukti kurangnya keimanan terhadap janji Allah mengenai pasangan kelak yang baik jika dirinya sudah baik. Perhatikan kelemahannya:

-menunjukkan kurangnya iman terhadap janji Allah

-sakit hati

jika ada salah yang lebih dahulu mendahuluinya menuai aqad sah. Rasa sakit karena cinta, bisa membuat seseorang berkhayal agar memori otaknya dihapus. Begitu juga jika ada lawan jenis lainnya yang mendekati, maka dadanya sesak dan hatinya sakit. Sungguh ironis, sekiranya Allah memciptakan cinta untuk membuat bahagia tetapi ia merana karena cinta.

-membuang waktu, tenaga dan pikiran.

Karena yang namanya membakar asmara yang membuatnya mampu bergetar, tidak semudah membakar dengan menggoreskan pentul korek api. Asmara muncul dengan sakral dan perlahan-lahan menyusup. Tentu ini membuang waktu, tenaga dan pikiran apalagi jika targetnya beberapa orang. Hendaknya kita memperhatikan sabda Nabishallallahu ‘alaihi wasallam,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” [HR. At-Tirmidzi no. 2318, hasan lighairihioleh Syaikh Shalih Alu Syaikh dalm Syarh al-Arbain an-Nawawiyah]

Jatuh cinta dengan akhwat yang berbeda manhaj

Ikhwan A: nah itu dia ustadz permasalahannya, rencana ana, ana pengen “maju” sama dia, memang kita berbeda manhaj dan ana yakin dengan manhaj ana yang sekarang, akhwat itu memang perlu didakwahi karena manhajnya kurang tepat. Rencana ana akhwat itu, “dibini” dulu baru dibina ustadz. Nanti ana yang ngajak dia “ngaji” dakwah manhaj salafiyah.

Sebagaimana dengan kasus ikhwan diatas, maka hal ini bisa saja terjadi karena lingkungan yang sangat susah dihindari, yaitu ikhtilat bercampur baur laki-laki dan wanita. Di kampus, di tempat kerja dan di pusat perbelanjaan. Maka bisa jadi benih cinta muncul kemudian segera diikuti oleh perasaan. Apalagi sang akhwat memiliki mata, hidung, alis dan bibir yang sedap dipandang dan dinikmati. Maka keluarlah dalih “dibini dulu baru dibina”, “nanti saya ajak ngaji”, “nanti saya kenalkan dakwah ahlus sunnah”

Sebenarnya sang ikhwan dengan pemahaman Al-Quran dan Sunnah sesuai pemahaman salafus shalih, sudah mengetahui dengan seksama bahwa mencari jodoh bukan seremeh sekedar menimba air. Bukan pula bisa setengah ditawar, memasak air setengah matang kemudian diteguk, mencari jodoh yang agak mengerti kemudian dibuat mengerti seutuhnya manhaj yang selamat. Masalah jodoh adalah bisa dibilang salah satu episode klimaks dalam sejarah hidup. Bagaimana tidak, ialah yang akan menemani kita selama hidup, berbagi cita, bertukar pikiran, menopang, merangkul, menasehati dan menguatkan di jalan Allah. Ialah jodoh kekal di akherat nanti.

Jika saja seorang mahasiswa menginginkan IPK sempurna diatas 3,5. Jika saja seorang pagawai menginginkan posisi sempurna dipuncak. Jika saja petani menginginkan sesak sempurnanya lumbung padi. Maka mengapa untuk masalah jodoh dan agama tidak demikian? Mengapa ia harus ditawar? Mengapa ia harus sesuatu yang tidak pasti?

“dibini dulu baru dibina”. Nah, pernyataan ini juga perlu ditinjau kembali:

-mampukah nanti membinanya? Sudah cukupkah ilmu? Jangan terlalu percaya diri, lebih-lebih membina diri sendiri saja masih berlepotan. Memaksa hati untuk hal yang baik saja masih berat. Senyatanya dia tahu kualitas dirinya dengan sebenar-benarnya, hanya saja ia mencari-cari alasan. Sungguh sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

بَلِ الْإِنسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌْوَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ

“Bahkan manusia itu lebih mengetahui tentang dirinya. Meskipun dia mengemukakan alasan-alasan” [Al-Qiyamah: 14-15]

-apakah yang dibina akan menerima langsung apa yang dibina? apakah hidayah itu pasti akan datang? Ketahuilah bahwa hidayah taufik yang berkaitan dengan hati manusia, berada dalam kehendak Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja sangat ingin membimbing dan memberi hidayah kepada pamannya Abu Thalib yang ia cintai akan tetapi Allah berkata lain dan berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.[Al- Qashash : 56]

-bisa jadi nanti malah sang ikhwan yang terbawa arus, mengikuti manhaj akhwatnya yang kurang tepat. Karena kurangnya ilmu dan lebih-lebih ia jarang muncul dalam peredaran dakwah. Ketahuilah bahwa hati ini lemah, terlebih terhadap wanita. AllahTa’ala berfirman,

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” [An Nisa: 2]


Imam Al-Quthubi rahimahullah berkata dalam tafsirnya ,

وَقَالَ طَاوُسٌ: ذَلِكَ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ خَاصَّةً. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

أَنَّهُ قَرَأَ (وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا) أَيْ وَخَلَقَ اللَّهُ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا، أَيْ لَا يَصْبِرُ عَنِ النِّسَاءِ

“berkata Thowus rahimahullah , “hal tersebut adalah mengenai wanita”. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwanya beliau membaca [وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا] yaitu, tidak sabar terhadap [godaan] wanita.” [Al-Jami’ liahkamil Quran 5/149, Darul Kutub Al-mishriyah,Kairo, cetakan kedua Asy-Syamilah]

Memang ada sebagian ikhwan yang berhasil membina dan beberapa ustadz yang menasehati sebagai jalan yang benar-benar terakhir tetapi dengan syarat:

-ustadz melihat sang ikhwan adalah orang yang istiqamah dan cukup mumpuni ilmunya

-sang ikhwan harus tetap beredar dalam peredaran dakwah

-akhwat tersebut bukanlah pembesar dan pentolan dalam dakwahnya yang kurang tepat. Lebih-lebih ia sekedar simpatisan dan berjiwa lugu dan polos.

Akan tetapi sekali lagi, apakah kita mau memilih buah manggis setengah matang yang agak kecut? Kemudian belum pasti akan masak walaupun kita menunaikan hak tanaman tersebut? Kenapa kita tidak memilih manggis yang sudah cukup matang, buahnya terbungkus kuat oleh kulit tebal yang menunjukkan terjaga dan sucinya, dan ketka dibuka putih bersih nan ranum, lembut di lidah dan sangat manis dengan aroma tipis yang menggairahkan selera. Akhwat yang bagai buah manggis matang lebih baik.

Jatuh cinta karena perisai iman yang jebol

Fulanah: kami dulunya satu kelompok praktikum. Awalnya ana bisa menjaga diri dari para laki-laki. Tapi yang satu ini sepertinya terus-terus berusaha mendekati ana. Dia sering sms, kasih hadiah, malah dia katanya mau main-main ke rumah ana. Jelas ana tolak mentah-mentah. Tapi lama kelamaan, kata-kata manis dan pengorbanannya membuat hati ana meleleh. Sekuat-kuat iman wanita, hati ana lemah, akhirnya luluh juga. Ana tidak kuasa menolak sms pertanyaan tentang agama ke ana, ana juga tidak kuasa menolak hadiah yang setiap satu minggu sekali dikirim ke rumah ana via pos. Dia bilang, ana satu-satunya tempat jangkar, agar perahunya menepi. Dia bilang juga ana berbeda dengan wanita-wanita lain, yang gampang dia dapatkan. Dia sangat penasaran dengan ana. Kok baru kali ini ada wanita yang sukar sekali luluh dengan dia. Dia bilang, ana wanita yang spesial. Dia juga mengikrarkan bahwa, akan menempuh segala cara agar ana memberikan tangan sebelah lagi sehingga cinta bisa bertepuk. Ana sadar ini racun , tetapi kenapa ana masih ingin mengisapnya sampai habis ya? Ana sadar dia kurang baik buat akhirat ana, tetapi kenapa hati ini selalu bertumpu padanya?

Itulah wanita, sekuat-kuat iman wanita akan tetapi ia disempurnakan dengan perasaan yang dalam. Allah menciptakan wanita dengan perasaan yang dalam karena untuk menyempurnakannya sebagai seorang ibu yang identik dengan perasa, lembut dan kasih sayang. Inilah salah satu yang dimaksud dengan kebengkokan wanita,

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ،

فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk dan ia (seorang wanita) tidak akan lurus bagimu di atas satu jalan, maka jika engkau menikmatinya maka engkau akan menikmatinya dan pada dirinya ada kebengkokan, dan jika engkau meluruskannya maka engkau akan mematahkannya. Dan patahnya wanita adalah menceraikannya.” (HR Muslim II/1091 no 1468)

Wanita sangat mudah ditaklukkan dengan pengorbanan laki-laki. Wanita tidak tahan dengan pengorbanan laki-laki demi dirinya. Apalagi pengorbanan itu berhias perhatian. Maka bisa membuat wanita bergelimang cita, melayang-layang tinggi dalam alam setengah khayal dan bertelekan diatas permadani sutra buaian.

Maka tidak ada jalan terbaik selain menutup rapat penuh hati dan jalan masuk lelaki hingga saatnya tiba bersamaan dengan keseriusan. Menolak dengan lantang dan tegar segala perhatian dari lelaki, semua hubungan yang menjurus kearahnya. Barulah ia buka jika telah tiba saatnya nanti. Tidak ada laki-laki yang berani bermain api jika wanita terlihat tegar dengan kehormatannya. Tolak semua dengan tegas perhatian, sms berkedok dakwah, hadiah dan bimbingan berbalut rayuan.

Bagaimana jika sudah terlanjur seperti kasus diatas?

Apabila sang ikhwan adalah ikhwan yang baik agama dan aklaknya, segera tantang dia? Jangan mau setengah-setengah maju dengan modal jenggot saja atau celana cingrang saja. Jika ingin serius maka seriuslah. Yang setengah-setengah tentu tidak enak, yang kurang matang tentu tidak gurih. Minta dia menyempurnakannya dengan aqad yang jelas dan suci.

Akan tetap jika laki-lakinya seorang pemain band seperti kasus diatas, kemudian cinta sudah menancap. Maka ini membutuhkan perjuangan yang keras. Tempuhlah jalan ini:

-Putuskan segera hubungan, hapus nomor HP, hapus pertemanan di jejaring sosial, buang semua hadiah dan singkirkan segala sesuatu yang bisa mengingatkan kepada lelaki tersebut

-Kemudian sibukkan diri dengan ilmu, amal dan bermanfaat bagi dunia dan akhirat

-Sering-sering berkumpul dengan mereka yang istiqamah dan bisa menasehati

-Dan terakhir jika bisa, segeralah menikah dengan ikhwan yang baik agam dan akhlaknya, karena kaidah psikologi yang dibawa oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyahrahimahullah berlaku yaitu,

النفس لا تترك شيئا ألا بشيئ

“jiwa tidak akan bisa meninggalkan sesuatu kecuali jika ada sesuatu [yang menggantikannya]”

Subhanallah tulisan ini dan beberapa pelajaran berharga yang kuterima, semoga menjadi Ishlah diri. Tidak kembali mengulangi kesalahan yang lalu...Allaahummaghfirli Ya Allah..

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid
2 Muharram 1433 H, Bertepatan 28 November 2011
Penyusun: Raehanul Bahraen
artikel http://muslimafiyah.com

Monday, November 28, 2011

“Status FB-mu” Cerminan Baiknya KeIslamanmu?

Berbagai macam status bermunculan di dinding facebook, (apalagi di malam minggu) ..

Dengan keperluan masing-masing dan pikiran masing-masing.

Ada yg punya maksud bahkan ada yang sekedar 'iseng'.

Dari persoalan pribadi,

masalah keluarga,

pelajaran sekolah,

problem rumah tangga,

pekerjaan di kantor,

persahabatan,

dan yang paling seru (tercatat paling banyak) adalah masalah Cinta!

Ribuan ungkapan dari ribuan hati dan akal manusia yang menyampaikan apa yang dirasakannya, sebagian dari mereka menggunakan facebook sebagai sarana untuk menyampaikan dakwah, saling menasihati dalam kebaikan dan menerbitkan catatan-catatan yang bermanfaat bagi kaum muslimin sehingga berada di lingkungan facebook bersama mereka terasa menyejukkan, dengan berusaha menghindari fitnah dalam dakwah di facebook beberapa ikhwah telah memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam menyebarkan dakwah sunnah di Indonesia ini.

Namun ibarat pedang bermata dua, facebook juga memiliki sisi negatif, bagi mereka yang tidak mampu memilih teman yang baik untuk menjadi teman “mudzakaroh”, facebook berubah menjadi sebuah “racun” yang membawa penggunanya memasuki pergaulan yang tidak sesuai dengan syari’at Islam, terlebih itu facebook bisa menjadi sarana yang bisa merusak akidah, akhlak dan jiwa seseorang dalam prosesnya, sekali lagi, facebook hanyalah benda mati yang tidak bisa dipersalahkan, namun yang harus diperhatikan adalah bagaimana dalam menggunakan facebook itu sendiri.

Yang menjadi fokus pembahasan dalam catatan ini adalah bahwa bagaimana kita menjaga status dan apa yang kita sampaikan bukanlah menjadi sarana perusak dari iman kita. Facebook memang suatu sarana bagi ikhwah untuk menyampaikan perpanjangan perbuatan dari lidah penulisnya, jadi apa yang telah dituliskan di status seseorang adalah termasuk juga sesuatu yang disampaikan melalui lidahnya. Fungsi tangan dalam mengetik dalam status menjadi pengganti dari fungsi lisan yang mengucapkan sesuatu, jika ucapan itu baik maka akan berakibat baik juga bagi orang lain dan si pengucapnya, namun sebaliknya jika ucapan itu buruk maka akan berakibat buruk juga bagi orang lain dan si pengucap itu sendiri. Maka dari itu, kami harapkan agar ikhwah benar-benar selalu menjaga “lisan” nya dalam statusnya masing-masing...

Berikut ini beberapa hal yang membuat pemilik status beresiko untuk merusak imannya, dalam ke-isengannya menerbitkan status facebook yang tidak bermanfaat :

BERBICARA DALAM HAL YANG TIDAK BERMANFAAT

Manusia telah diberikan modal yang sangat berharga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni usia atau waktu dalam kehidupannya, dengan waktu itu manusia mampu mengumpulkan pahala yang banyak, sehingga lebih tepat seorang mukmin menggunakan waktu yang ada pada dirinya untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala, saling menasihati dalam kebenaran dan menuntut ilmu syar’i agar waktu yang ia miliki itu membawa kemanfaatan bagi dirinya.

Manusia yang tidak menggunakan waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat memiliki tiga kerugian, pertama adalah dia rugi dengan keburukan yang dia lakukan dengan bertambahnya dosa dari keburukannya itu, kedua apabila perbuatannya tidak berbahaya maka dia telah kehilangan waktunya dengan terbuang percuma, dan yang ketiga dia telah kehilangan waktu dalam hidupnya untuk peluang menghasilkan pahala dan waktu itu tidak mungkin ia dapatkan lagi. Sungguh merugi orang-orang yang membuang waktunya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Cerminan baiknya ke-Islam-an seseorang apabila ia mampu meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya.”
[HR. Tirmidzi (3/382), dinilai hasan oleh an-Nawawi rahimahullah dalam Riyadush Shalihin]

Meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bermakna suatu hal yang tidak berpeluang menghasilkan kebaikan dalam dunia dan akhiratnya sesuai ukuran syari’at Islam, sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits yang shahih, bukan dengan hal-hal yang hanya memuaskan nafsu duniawinya saja, jika seseorang menggunakan waktunya untuk menulis suatu status yang tidak bermanfaat untuk memuaskan dirinya dan nafsunya, atau untuk sekedar ber -“haha-hihi” dalam facebook, menulis status yang tidak memiliki makna, atau dengan tulisan-tulisan yang tidak bisa dipahami secara syar’i, maka hal ini termasuk seseorang tersebut telah menunjukkan buruknya ke-Islam-an dalam dirinya.

Mujahid rahimahullah berkata “Aku pernah mendengar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Lima hal yang lebih aku sukai daripada hadiah berupa unta pilihan (unta pilihan adalah kendaraan yang paling baik saat itu, di masa sekarang mirip dengan kendaraan (mobil/motor) yang terbaik, lalu di masa kini siapakah yang rela menyukai berdiam diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat dibanding diberi mobil / motor terbaik?) adalah :

1. Jangan berbicara dalam perkara yang tidak bermanfaat bagimu, sebab hal itu termasuk perbuatan sampah. Dikhawatirkan engkau akan mendapat dosa disebabkan perbuatanmu itu.

2. Jangan berbicara untuk perkara yang bermanfaat bagimu sampai engkau memastikan sesuai waktunya, karena seringkali seseorang berbicara dalam perkara yang bermanfaat baginya, tetapi pada waktu yang tidak tepat, sehingga menyusahkannya.

3. Jangan membantah orang bijak (shalih) dan orang pandir (jahil), sebab seseorang yang shalih akan membencimu dan seseorang yang jahil akan menyakiti hatimu.

4. Jika saudaramu sedang pergi, sebutlah dengan apa yang engkau inginkan ia menyebutmu. Maafkanlah ia dari apa yang engkau ingin ia memaafkanmu. Dan bergaullah dengan cara yang engkau ingin ia melakukannya terhadapmu.

5. Berbuatlah dengan perbuatan orang yang memahami bahwa siapa yang membalas kebaikan, maka ia akan diberi penghormatan.

Maka kami wasiatkan agar setiap mukmin dan mukminah yang beriman kepada Allah Ta’ala serta Hari Akhir agar menjauhkan diri dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat dalam facebook, yakni dengan menuliskan status-status yang jauh dari menasihati dalam kebenaran (dakwah IllAllah Ta’ala).

BANYAK BICARA

Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat kelak, yaitu orang yang terbaik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat kelak, yaitu tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun".

Sahabat bertanya : "Ya, Rasulullah. Kami sudah mengetahui arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiqun?"

Beliau menjawab,"Orang yang sombong."

[HR at Tirmidzi, ia berkata: "Hadits ini hasan". Hadits ini dishahihkan oleh al Albani dalam kitab Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 2018]

(Tsartsarun), banyak omong dengan pembicaraan yang menyimpang dari kebenaran.

(Mutasyaddiqun), kata-kata yang meremehkan orang lain dan berbicara dengan suara lagak untuk menunjukkan kefasihannya dan bangga dengan perkataannya sendiri.

(Mutafaihiqun), berasal dari kata al fahq, yang berarti penuh. Maksudnya, seseorang yang berbicara keras panjang lebar, disertai dengan perasaan sombong dan pongah, serta menggunakan kata-kata asing untuk menunjukkan, seolah dirinya lebih hebat dari yang lainnya.

Pembicaraan yang sering ditulis dalam status kemudian mendapat kan komentar dari sana-sini, plus lengkap dengan bumbu-bumbunya, sebagai contoh jika seseorang marah kemudian menuliskannya dalam status facebooknya maka teman-temannya dari kalangan juhala (orang-orang bodoh) akan mengomentarinya dengan ucapan-ucapan yang mendukung agar kemarahannya semakin besar dan sangat jarang sekali ada komentar yang memintanya untuk beristighfar dan bersabar atas peristiwa apapun yang menimpanya. Contoh yang lain ada ungkapan status yang menuruti kehendak syaithan dengan ucapan-ucapan yang kotor, maka teman-temannya malah banyak yang memberikan dukungan dalam keburukannya itu, na’udzubillahi min dzaalik.

Masih juga banyak status-status lain yang tidak bermanfaat dan termasuk suatu pemborosan uang dengan keluarnya pulsa dalam menuliskan status itu, mulai dari sekadar curhat ringan akan suatu peristiwa yang menimpa dirinya, ungkapan kekesalan yang sedang dirasakan hatinya, atau bahkan yang lebih menggelikan sekali adalah berita cuaca dan keadaan disekitarnya sampai rela dimasukkannya dalam status facebook, ada status yang mengeluhkan pakainnya kehujanan, hari yang teramat panas, malam yang dingin, tetangga yang usil, sampai ayam berkokok pun dimasukkannya dalam status facebook. Yang lebih parah lagi ada yang rela mengeluarkan pulsa hanya untuk menulis status di facebook dengan tulisan “huahuahuahua” atau “wkwkwkwk”, lalu dimanakah iman mereka saat itu?

BANYAK MEMBICARAKAN KEBATHILAN

Melanjutkan pembahasan pada poin di atas, perkataan-perkataan yang aneh yang bermunculan di facebook bisa berakibat buruk bagi penulisnya, sangat dikhawatirkan seseorang akan merusak dunia dan akhiratnya hanya gara-gara tulisannya itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Sungguh seorang hamba mengucapkan suatu kata yang “tidak jelas” baginya, namun menyebabkan ia terseret ke neraka yang jaraknya lebih jauh dari Timur dan Barat.” [HR. Al-Bukhari (11/308) dalam Fathul Baari dan Muslim (18/117) dalam Syarh An-Nawawi]

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Maksud “tidak jelas” dalam hadits itu adalah tidak memikirkan apakah perkataannya itu baik atau buruk.”[Riyadush Shalihin (2/825)]

Termasuk dalam hal ini adalah menuliskan status yang bisa bermakna menyombongkan diri, seperti mengabarkan kebaikan yang akan dilakukan atau yang telah dilakukan (contohnya seseorang mengabarkan dalam status bahwa dia akan sholat malam, dia telah sholat berjamaah atau dia telah membantu keluarga dan orang tuanya) hal ini bisa menumbuhkan sikap riya’ dan ingin dipuji orang lain atau minimal kebaikan kita ingin diketahui oleh orang banyak.

BERSITEGANG (DEBAT)

Banyak sekali kita jumpai para kaum muslimin suka bersitegang dalam status dan komentar di facebook, dan kadang-kadang memang banyak orang yang “memancing di air keruh” kalau tidak bisa dibilang memang hobby berdebat, atau yang paling menyedihkan mereka-mereka ini adalah orang yang jauh dari pemahaman ilmu agama, kadang hanya karena perkara yang sepele saja yang tidak ada hubungannya dengan perkara agama mereka suka bersitegang dan mengeluarkan kata-kata yang buruk.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

”Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling sengit dalam menuduh dan membela diri.” [HR. Al-Bukhari (5/106) dalam Fathul Baari]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
”Dipastikan masuk surga orang yang memberi makan dan senantiasa mengucapkan perkataan yang baik.”[HR. Ath-Thabrani dengan sanad yang jayyid]
 
Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Hindarilah neraka meski dengan sebiji kurma, dan siapa yang tidak memiliki sebiji kurma maka cukup dengan perkataan yang baik.”[HR. Muslim (7/95) dalam Syarh An-Nawawi]

Dan masih banyak lagi yang membuat perbuatan orang-orang yang mengaku muslim dalam facebook mengerjakan perbuatan-perbuatan dalam menulis statusnya yang bisa berpotensi merusak orang lain, termasuk perempuan-perempuan yang mengumbar fitnah dan kata-kata yang manja dalam facebook serta ucapan-ucapan kotor yang lain.

NASEHAT KAMI KEPADA PENGGUNA FACEBOOK DARI KALANGAN KAUM MUSLIMIN

1. Janganlah pernah membuang waktu dan harta anda dengan menulis status yang tidak bermanfaat dan tidak memiliki nilai nasihat serta kebenaran yang sesuai Al-Qur’an dan Hadits yang shahih. Justru hal ini termasuk perbuatan yang sia-sia dan merupakan pemborosan.

2. Jika ada status “aneh” nyelonong ke dalam “wall” anda, maka berilah komentar dengan nasihat yang baik serta lembut karena perkataan yang lembut bisa mencuci noda sakit hati yang meresap sampai ke seluruh anggota badan, hindarilah mendebatnya, jika nasihat anda tidak diterima maka tinggalkan saja, jika semakin banyak status yang aneh muncul lagi dari orang yang sama maka kami sarankan dihapus saja dari pertemanan, karena orang seperti ini tidak bisa dinasihati dan mengikuti hawa nafsunya.

3. Rajin-rajinlah dalam menyortir teman yang mengajukan pertemanan kepada anda dari melihat info yang ada pada mereka, lihat juga siapa teman-teman yang dia miliki, jika sebagian besar temannya banyak memiliki keburukan (dilihat dari foto profil yang tidak senonoh) maka kami sarankan diabaikan saja pertemanan ini.

4. Jangan pernah membuka pintu fitnah dengan berkhalwat dengan lawan jenis yang bukan mahram dalam obrolan.

5. Perhatikan undangan dari group atau halaman yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah yang shahih, abaikan saja undangan group atau halaman yang berpotensi merusak akidah dan iman kita, atau yang bersifat tidak bermanfaat dan memboroskan waktu serta biaya.

6. Jangan takut dengan perkataan atau komentar miring jika kita berlaku tegas kepada seseorang yang suka mengganggu dalam facebook, seorang mukmin harus tegas dalam menjaga agamanya dengan tetap mengedepankan adab dan akhlak dalam berdakwah.

7. Tidak ada salahnya membentuk group tertentu yang membahas suatu permasalahan secara khusus, sehingga bisa diambil manfaatnya bagi yang masih awam dan bisa menyampaikan dakwah dengan jelas dan tuntas bagi yang memiliki ilmu.

Demikian sekelumit hal yang bisa kami sampaikan dalam hal ber –“status” ria dalam facebook, semoga antum semua bisa mengambil manfaatnya dan menjadi muhasabah kembali apa saja yang telah kita sampaikan dalam status facebook kita. Apakah status kita tergolong status yang bermanfaat atau justru sebaliknya menjadi golongan status yang sia-sia atau mengajak dalam keburukan.

Wahai saudaraku ikhwani wa akhwati fillah, sudah saatnya mulai dari detik ini untuk meninggalkan status “abal-abal”, sudah waktunya untuk menjauhi status yang bisa menjerumuskan kita dalam jurang kenistaan dan menampakkan dengan jelas kondisi ke-Islam-an kita di hadapan orang lain, sudah seharusnya kita merasa malu untuk menulis status yang tidak memiliki manfaat.

Wallahu a’lam bishshowab.

NB: Jawaban saya tidak!!! Keimanan hamba-Nya hanya Allah yang Maha tahu....